IoT salah satu andalan untuk Making Indonesia 4.0

Pemerintah telah meluncurkan peta jalan Making Indonesia 4.0 untuk kesiapan memasuki era revolusi industri 4.0. Peta jalan yang diinisiasi oleh Kementerian Perindustrian ini menjadi strategi dan arah yang jelas dalam pengembangan industri nasional yang berdaya saing global.

Aspirasi besar dalam Making Indonesia 4.0 adalah menjadikan Indonesia masuk dalam jajaran 10 negara yang memiliki perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030.

Berdasarkan Making Indonesia 4.0, ada lima sektor manufaktur yang akan dijadikan pionir, yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, dan elektonika.

Implementasi Industri 4.0 di manufaktur sangat terkait dengan penyediaan infrastruktur dan teknologi informasi dan komunikasi antara lain: Internet of Things (IoT), Big Data, Cloud Computing, Artificial Intellegence, Mobility, Virtual dan Augmented Reality, sistem sensor dan otomasi.

“IoT akan menjadi salah satu backbone dari adopsi Revolusi Industri 4.0 di Indonesia. Sejak dua tahun lalu kami bersama Indonesia IoT Forum telah mendorong adanya regulasi untuk mengantisipasi “The Next Big Thing” di industri telekomunikasi ini. Alhamdulillah pemerintah dalam hal ini Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Kementrian Perindustrian (Kemenperin) telah menyiapkan sejumlah regulasi yang akan membuat IoT akan semakin besar di Indonesia,” ungkap Founder IndoTelko Forum, Doni Ismanto Darwin dalam Diskusi Tahunan “IoT for Making Indonesia 4.0 dalam rangka HUT ke-7 IndoTelko.com, Selasa (27/11).

IoT merujuk pada jaringan perangkat fisik, kendaraan, peralatan rumah tangga, dan barang-barang lainnya yang ditanami perangkat elektronik, perangkat lunak, sensor, aktuator, dan konektivitas yang memungkinkan untuk terhubung dengan jaringan internet maupun mengumpulkan dan bertukar data.

“Isu krusial dalam adopsi IoT nanti terkait konektifitas, data security, interperobilitas, dan lainnya. Saya harapkan draft Peraturan Menteri untuk spektrum frekuensi dan standarisasi perangkat IoT bisa disahkan tahun ini agar pelaku di industri ini ada kepastian hukum mengembangkan bisnisnya,” harapnya.

Ismail, Direktur Jenderal Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika Kemenkominfo menyatakan instansinya siap mendukung para pelaku industri untuk menciptakan ekosistem IoT dengan payung hukum yang kuat.

“Terkait regulasi, harus ada payung hukum dalam pengembangan IoT ini. Kalau misalnya Undang-Undang terlalu berat maka perlu Peraturan Pemerintah untuk memayungi para pelaku industri yang ingin bertransformasi ke 4.0. Kami di Kominfo menyatakan kalau tidak bisa membantu, maka jangan jadi pengganggu,” kata Ismail.

Pemerintah menurutnya akan mengambil inisiatif pengembangan ekosistem dan business model IoT di Indonesia.

“Karena IoT itu tidak cukup hanya connectivity tetapi juga ekosistemnya, dan business modelnya sehingga bisa menciptakan efisiensi dan revenue bagi lebih banyak pelaku industri yang mau melakukan digitalisasi,” tegasnya.

Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Achmad Rodjih Almanshoer menambahkan, pencanangan Indonesia 4.0 sebagai program nasional oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak lepas dari inisiatif Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.

“Kalau di Jerman Barat, inisiator 4.0 adalah pelaku industri. Sementara di Indonesia, pemerintah harus berinisiatif demi meningkatkan daya saing industri nasional. Sebagai inisiator, Kemenperin akan membuka delapan pusat pengembangan SDM terkait digitalisasi industri ini di seluruh Indonesia, di mana salah satunya adalah mengajarkan soal IoT,” kata Rodjih.

Pentingnya pemanfaatan teknologi dalam menjalankan roda bisnis juga diamini oleh Muhammad Awaluddin, Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero). Awaluddin yang bergabung dengan AP II pada September 2016 mengaku banyak melakukan perubahan dalam pola bisnis perusahaan operator bandara yang dipimpinnya tersebut.

“Profile penumpang pesawat saat ini sudah banyak berubah. Saat ini banyak didominasi generasi millennial yang ingin melayani dirinya sendiri, jadi disitu peran digitalisasi dibutuhkan. Contohnya adalah dengan self check in menggunakan smartphone,” kata Awaluddin.

Ia menuturkan, para penumpang pesawat selalu menginginkan tiga hal mudah di bandara yaitu hassle free, stress free dan confusing free. Oleh karena itu dalam mendesain terminal 4 Bandara Soekarno-Hatta Awaluddin berpesan, desainnya harus disesuaikan dengan kebutuhan para penumpang ketika bandara tersebut selesai dibangun dan beroperasi pada 2024 mendatang.

“Kemampuan desainer untuk menerawang sampai saat itu yang diperlukan. Jangan sampai menjadi bandara yang tidak cerdas lagi. Karena bisa jadi pada saat itu ekosistem Indonesia 4.0 sudah jadi kenyataan bukan lagi teori,” katanya.

Judi Achmadi, Executive Vice President Divisi Enterprise PT Telkom Tbk menyatakan ada tiga faktor yang akan mendukung pertumbuhan IoT di Indonesia, yaitu tingginya pemanfaatan dari smartphone di Indonesia, populasi usia produktif di bawah 25 tahun yang berjumlah 2,5 miliar orang di dunia, dan revolusi industry 4.0.

“Jadi semuanya sekarang serba digital. Bos Cisco John Chambers pada 2015 lalu meramal ada 40% perusahaan akan mati dalam 10 tahun ke depan karena tidak mendigitalisasi dirinya, dan itu sudah terjadi,” kata Judi.

Kirill Mankovski, Chief Enterprise Officer PT XL Axiata Tbk, berharap perusahaannya dapat membantu memperbanyak pemanfaatan IoT oleh para pelaku bisnis di Indonesia.

“Konsep XL untuk pengembangan IoT ini adalah berkelanjutan. Kami punya konektivitas, lalu juga punya platform, serta punya solusi out of the box untuk IoT. XL juga punya X-Camp di mana setiap orang bisa datang dan menggunakan fasilitas IoT yang kami miliki. Prediksi kami sampai 2020 nanti lebih dari 70% perusahaan Indonesia akan mengadopsi IoT,” kata Kirill.

Sementara Alfian Manullang, GM IoT Smart Connectivity Telkomsel mengklaim perusahaannya merupakan IoT hub terbesar di Indonesia saat ini. Telkomsel menurut Alfian menjalankan fungsi sebagai enabler yang melayani berbagai kebutuhan digitalisasi industri di Indonesia.

“IoT itu targetnya saving cost dan generate revenue. Balik lagi ke intinya objektif apa yang mau dicapai suatu perusahaan dari IoT. Nah, total solution itu yang kita berikan ke customer karena menurut kami IoT ini masih baru di Indonesia, dan kolaborasi itu sesuatu yang penting dalam pengembangannya,” katanya.

Mendukung pernyataan Alfian, VP Network Solutions PT Ericsson Indonesia, Ronni Nurmal berkeyakinan IoT sangatpenting untuk meningkatkan daya saing produk nasional.

“Pemanfaatan teknologi itu penting sehingga industri dalam negeri bisa memproduksi dan menjual barang dengan harga yang kompetitif lagi. Saya senang pemerintah tidak ingin kita ketinggalan dari sisi digitalisasi industri. Kalau ini tidak dikerjakan, risikonya akan banyak produk negara lain yang masuk ke Indonesia dan kita tidak bisa bersaing,” kata Ronni.

Sementara Mohamad Rosidi, Direktur ICT Strategy & Marketing dari Huawei Indonesia, berkeyakinan program nasional Indonesia 4.0 akan meningkatkan daya saing Indonesia diantara negara-negara lain di dunia.

“Dari sisi konektivitas Indonesia ada di peringkat 64, masih di level starter digitalisasi yang bahkan kalah dengan Vietnam dua peringkat di atasnya. Namun bicara ekosistem IoT, kita tidak bisa bekerja sendirian, harus ada sinergi antara operator, regulator dan lainnya untuk meningkatkan konektivitas kita,” kata Rosidi.

Untuk bisa mengoptimalkan penyebaran pemanfaatan IoT di Indonesia, dibutuhkan peranan dari infrastruktur telekomunikasi yang menunjang. Nia Kurnianingsih, Division Head of Digital Solution PT Tower Bersama Infrastructure, menuturkan perusahaannya menjalankan mandat untuk melaksanakan tugas tersebut di Indonesia.

Tower Bersama menurut Nia saat ini memiliki 13.800 tower di seluruh Indonesia yang dimanfaatkan oleh 20.400 tenant.

“Peranan kami dalam mensukseskan Indonesia 4.0 adalah empowering UMKM, mengembangkan digital infrastruktur, pengembangan kualitas sumber daya manusia, dan pengembangan ekosistem inovatif. Tanpa adanya tower, tidak bisa berjalan dengan baik semua program terkait 4.0 tersebut. Disinilah peran serta kami,” kata Nia.

Teguh Prasetya, Founder IoT Forum sendiri menyatakan IoT sudah menjadi Internet of Everything dalam berbagai lini perekonomian di Indonesia. Ia bahkan memperkirakan pada 2025 nanti, sekitar 70% Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan disokong oleh industry berbasis IoT.

“Market IoT Indonesia pada 2022 diperkirakan Rp 444 triliun, dan pada 2025 nanti menjadi Rp 1.620 triliun. Sampai saat ini ada 250 perusahaan berekosistem IoT di Indonesia yang tumbuh dan berinvestasi disana. Kita tertinggal di 2G sampai 4G, jangan sampai tertinggal di IoT karena pasarnya masih luas,” kata Teguh.

(Visited 17 times, 1 visits today)

About The Author

You might be interested in

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.