Dukung Ekonomi Digital Indonesia, Indosat Ooredoo dan Tempo Gelar Digital Economic Briefing

Netters, Indosat Ooredoo bekerjasama dengan Tempo mengadakan Digital Economic Briefing. Pada diskusi tersebut, tema yang diangkat adalah “Menuju Visi 2020: Mendorong Pertumbuhan Eksponensial Ekonomi Digital di 2018”. Penyelenggaraaan Digital Economic Briefing ini adalah bagian komitmen Indosat Ooredoo untuk terus mendukung pemerintah untuk mewujudkan masyaraat ekonomi digital Indonesia.

Pemerintah menargetkan visi menjadi digital nation pada 2020. Hal ini mencakup 1000 Startup bernilai bisnis USD 10 miliar, pertumbuhan 50 e-commerce per tahun dan nilai transaksi USD 130 miliar. Tentu saja demi mencapai sasaran tersebut dibutuhkan usaha lebih pada tahun 2018 dibanding tahun sebelumnya. Tak hanya mengandalkan e-commerce, namun juga aplikasi dan mode digital lain yang berbasis kreativitas.

“Sekarang kita harus masuk ke arena digital, jangan hanya jadi bangsa yang hanya mengandalkan sumber daya alam dan sektor manufaktur. Saya yakin sekarang ini kita berada dalam masa krusial,” ucap Darmin Nasution, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia.

Digital tak hanya dipandang dari segi kecepatan, tetapi juga kemampuan beradaptasi pada kemajuan digital. Penetrasi ekonomi digital mulai masuk dalam perekonomian naasional. Tahun ini perdagangan dan retail pertumbuhannya turun menjadi 10,5% per tahun. Padahal biasanya pertumbuhan sektor tersebut 12,5% per tahun. Sebaliknya di sektor e-commerce terjadi pertumbuhan tiga puluh kali lipat selamat tiga tahun terakhir.

Sesi Pertama Digital Ecnonomic Briefing

Salah satu sasaran mewujudkan digital nation adalah menciptakan unicorn start-up atau start-up yang nilainya lebih dari USD 1 miliar.

“Dukungan terhadap terciptanya Unicorn baru dilakukan dengan enam tahap, mulai dari ignitation, workshop, hackathon, bootcamp sampai incubation. Kami menyiapkan sarana untuk mempertemukan start-up dengan venture-capital dari mancanegara,” ucap Rudiantara Menteri Kemkominfo RI pada sesi pertama diskusi.

“Kunci mewujudkan visi digital nation yang dicanangkan pemerintah adalah peningkatan kualitas jaringan, infrastruktur dan pemerataan digital. Demi mempelopori kebangkitan visi digital, kami menyelenggarakan banyak kegiatan. Salah satunya adalah Indonesia Ooredoo Wireless Innovation Contest (IWIC). Demi membentuk ekosistem digital berkelanjutan, kami pun membuat inkubasi bisnis start-up,” ucap Joy Wahjudi, President Director & CEO Indosat Ooredoo.

Indosat Ooredoo juga mendukung berbagai usaha pemerataan akses digital dan menghubungkan literasi digital ke seluruh pelosok Indonesia

Presiden Direktur Tempo Media Grup, Toriq Hadad mengatakan,”Fenomena digitalisasi merupakan keniscayaan. Semuda industri mesti menghadapi hal ini. Dalam semalam Alibaba dapat membukukan penjualan yang besarnya seperenam APBN kita. Indonesia akan terkena gelombang digitalisasi di seluruh aspek kehidupan.”

Badan Ekonomi Kreatif pun mendukung terciptanya ekosistem pada aplikasi digital dan ekonomi kreatif. Hal ini disampaikan pada diskusi tersebut oleh Triawan Munaf sebagai Kepala Badan Ekonomi Kreatif.

“Developer day yang diselenggarakan Bekraf di 15 kota menjaring 11 ribu peserta, dan menghasilkan 1300 produk digital. Ekosistem sangat penting karena ini merupakan kesempatan bagi perusahaan rintisan untuk dapat berjuang menjadi besar,”  lanjut Triawan.

Peningkatan industri film nasional ditunjukkan persentase 40% film nasional yang diputar di bioskop Indonesia. Imbal hasil bagi investor pun menarik, dapat hingga 14%. Industri aplikasi digital bisa tumbuh luar biasa di skala besar walau pengembalian investasi  start-up hanya berada di angka 7%.

Sesi Kedua Digital Ecnonomic Briefing

Rektor Universitas Pelita Harapan (UPH) yang juga mantan Direktur Utama Indosat di tahun 1990-an, Jonathan L. Parapak, menekankan pada kesiapan sumber daya manusia untuk menjadi wirausaha. Menurutnya dibutuhkan dukungan semua pihak agar bakat-bakat muda bisa berperan dalam industri baru ini.

Hal ini selaras dengan pendiri Bukalapak yang sudah menjadi Unicorn, yaitu Achmad Zaky yang kesulitan menemukan bakat baru.

“Bisa dibilang bahwa kita darurat talent sehingga mesti mencari ke negara lain. Padahal mestinya Indonesia bisa melangkah lebih maju dengan potensi sangat besar dengan revolusi gelombang keempat dari dunia digital. Jika perlu pengarahan menjadi seorang programmer dilakukan sejak pendidikan dasar. Dengan demikian banyak bakat-bakat yang mampu programming dalam 15-20 tahun mendatang. Sehingga Indonesia tak hanya jadi penonton tetapi ikut memanfaatkan gelombang keempat revolusi dunia, ucap Zaky.

Sementara itu Deva Rachman, Group Head Corporate Communication Indosat Ooredoo berharap bisa melanjutkan kerjasama dengan pemerintah dalam mewujudkan visi ekonomi digital pemerintah tahun 2020.

(Visited 93 times, 1 visits today)

About The Author

You might be interested in

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.