Studi Kelayakan Transportasi Super Cepat Hyperloop Mulai Dilakukan di Indonesia

Hyperloop Transportation Technologies (HTT) adalah pengembang sistem transportasi berbasis tabung hampa futuristik. Perusahaan tersebut kini sedang melakukan studi kelayakan sebesar $2,5 juta untuk tiga rute yang memungkinkan di Indonesia.

HTT juga telah menandatangani kesepakatan kerjasama dengan mitra Indonesia dengan membentuk Hyperloop Transtek Indonesia, ucap Bibop Gresta, COO HTT. Penandatanganan kesepakatan tersebut dilakukan oleh Bibop dan mitra lokalnya, yaitu Dwi Putranto Sulaksono dan Ron Mullers di Kementrian Transportasi Indonesia.

Perusahaan tersebut akan memetakan cara mengembangkan sistem Hyperloop pada tiga rute di Indonesia. Satu di Sumatera Utara, kedua menghubungkan bandara antar pulau di Jawa dan ketiga menghubungkan Jakarta dengan kota satelit Tangerang.

Teknologi Transportasi Hyperloop

Pada dasarnya Hyperloop adalah tabung panjang yang tekanan di dalamnya dikeluarkan hingga mendekati ruang hampa. Di dalamnya, kapsul berisi penumpang mengambang akibat levitasi magnetik. Tentu saja kapsul tersebut juga dapat digunakan untuk membawa barang. Dorongan yang nyaris mulus membuat teknologi ini hemat energi.

Sistem ini terintegrasi dengan panel surya yang bahkan membuatnya positif energi. Teknologi ini akan memproduksi energi lebih dari yang dibutuhkan jadi dapat dimonetisasi tak hanya dari ongkos yang dibayar penumpang. Contohnya adalah dengan menjual kelebihan listrik.

Konsep sistem transportasi ini pertama kali diajukan oleh Elon Musk, pendiri Tesla dan SpaceX pada tahun 2013.Pada jurnal yang dipublikasikan, Musk menggambarkan teknologi dasar yang dibutuhkan dan mengundang wirausaha lain untuk mengkomersialisasi gagasan tersebut. Teknologi inti dari Hyperloop ini memang masuk akal, tetapi masih menjadi perdebatan apakah dapat bekerja pada skala dan biaya yang realistis.

Pertarungan Bagi Abu Dhabi

Perjuangan tentang siapa yang pertama kali membangun jalur Hyperloop komersial terjadi antara HTT dan Hyperloop One yang juga berbasis di Amerika Serikat. Kedua perusahaan tersebut berusaha memenangkan mitra dan kontrak di seluruh dunia. Masing-masing mengoperasikan jalur penelitian dan menguji tempat menjadi tingkat skala yang berbeda.

HTT menonjol dan juga inovatif secara struktur. Mereka mempekerjakan tim inti sekitar 35 orang dan bekerja dengan sekumpulan relawan yang jumlahnya sekitar 800 orang, ucap Bibop. Ada skema dimana relawan akan mendapat kompensasi berupa saham berdasarkan jam kerja yang disumbangkan.

Lokasi pertama untuk implementasi komersial kemungkinan adalah Uni Emirat Arab. Hyperloop One menyarankan jalur yang menghubungkan Abu Dhabi dengan Dubai, sementara HTT ingin menghubungkan Abu Dhabi dan Al Ain.

Sebelum tiba di Indonesia, tim HTT bertemu juga dengan pemerintah India. Menurut Bibop, perusahaan telah bernegosiasi dengan beberapa negara, termasuk Perancis, Slovakia dan Republik Czech.

(Visited 215 times, 1 visits today)

About The Author

You might be interested in

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.