Baidu Luncurkan Chatbot Medis Demi Membantu Dokter Mendiagnosa Pasien

Raksasa mesin pencarian Cina, Baidu, meluncurkan chatbot medis yang dirancang untuk mendiagnosa penyakit dengan lebih mudah. Bot percakapan ini bernama Melody dan hadir menyatu dengan aplikasi Baidu Doctor untuk platform Android dan iOS. Aplikasi itu sendiri sudah diluncurkan di Cina pada tahun 2015.

Chatbot Pada Baidu Doctor

Baidu Doctor memungkinkan penggunanya untuk menghubungi dokter lokal, membuat jadwal kunjungan dan mencari dengan menelusuri database medis penyakit. Nah dengan keberadaan chatbot ini maka fungsi untuk membuat jadwal kunjungan bisa lebih cepat. Melody akan bertanya pada pasien untuk mempersempit cakupan penyakit sebelum informasi tersebut diteruskan kepada dokter mereka. Namun demikian, saat ini Melody baru tersedia di Cina saja.

Bot ini didukung oleh pembelajaran mendalam dari Baidu dan sistem pemrosesan bahasa yang alami. Ini merupakan hasil investasi Baidu selama beberapa tahun. Aplikasi ini juga memiliki keuntungan akses ke pasar Cina yang besar, dengan ratusan ribu pengguna potensial. Sehingga dapat mengakses ke begitu banyak data untuk meningkatkan keterampilan dalam percakapan.

“Seiring dengan lebih banyaknya percakapan yang dilakukan Melody, maka dia akan belajar dan terus menjadi lebih baik,” ucap Dr. Andrew Ng, kepala ilmuwan di pusat penelitian Silicon Valley Baidu dalam suatu pernyataan. “Ini baru permulaan dari transformasi industri kesehatan yang dipicu AI dengan lebih besar lagi.”

Kebutuhan Aplikasi Medis

Sejumlah startup di Amerika Serikat dan Inggris telah meluncurkan aplikasi serupa, mencakup Your.MD dan Babylon Health. Seperti halnya dengan chatbot Baidu, mereka juga menggunakan bot percakapan untuk melakukan pendiagnosaan dasar pada pasien. Aplikasi tersebut dapat bekerja dengan baik bila dilakukan perbandingan langsung yang terbatas dengan perawat. Pertanyaan yang serupa diajukan dan sampai dengan kesimpulan yang serupa juga. Tetapi cara mereka bisa cocok dengan sistem kesehatan negara secara keseluruhan merupakan pertanyaan yang jauh lebih menantang.

Sebagai contoh, apakah akan ada regulasi untuk aplikasi medis ini? Lalu apa yang terjadi jika mereka merangkul pemerintah lokal? Kemungkinan hasilnya akan serupa dengan keputusan untuk mensubsidi Uber ketimbang berinvestasi pada fasilitas transportasi umum.

Bagi Baidu, tampaknya mereka hanya fokus pada hal yang dapat diselesaikan  sekarang. Perusahaan tersebut mengutip statistik dari WHO yang mengatakan bahwa dunia menghadapi kekurangan sekitar 13 juta dokter dan profesional kesehatan selama dua puluh tahun ke depan.

“Dengan adanya kekurangan dokter di seluruh dunia, ada kebutuhan yang lebih besar dibandingkan solusi cerdas yang dapat membantu dokter untuk memfasilitasi rekomendasi yang akurat dengan lebih cepat,” ucap Ng.

 

(Visited 179 times, 1 visits today)

About The Author

You might be interested in

Comment (1)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.